Heboh

Kisah Seorang Bangsawan Inggris Korban Pertama Dalam ‘Kutukan’ Mumi Tutankhamun

By  | 

Sebuah kastil tua yang megah tampil dalam drama televisi Downton Abbey. Namanya, Highclere Castle yang terletak di Hampshire, Inggris.

Bangunan yang dikelilingi taman megah tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada para Earl of Carnarvon. Yang paling terkenal dari mereka adalah Earl ke-5 George Herbert atas keterlibatannya dalam ekskavasi makam Tutankhamun di Lembah Para Firaun di Mesir (Valley of the Kings).

Seperti dikutip dari The Vintage News, Sabtu (3/6/2017), George adalah seorang ahli Mesir amatir yang antusias. Ia memulai mengawali ekskavasi pada 1906 di Thebes.

Sebagai seorang amatir, George merasa bahwa dia memerlukan bantuan para ahli. Maka, ia meminta Howard Carter, seorang mantan pejabat Departemen Barang Antik di Mesir untuk bergabung.

Carter kemudian mengenalkan Sang Earl ke Gaston Maspero, direktur Departemen Barang Antik kala itu.

George meminta Maspero menjadi supervisornya, dan berdua mereka mempublikasikan banyak karya, yang di antaranya memuat temuan makam dari Dinasti ke-12 dan 18 Mesir pada 1912. Buku itu berjudul, Five Years’ Exploration at Thebes.

Pada 1914, Sang Earl mendapatkan konsesi untuk mengekskavasi Lembah Para Firaun. Bersama Howard Carter, mereka akhirnya menggali makam Tutankhamun. Di dalam liang kubur megah itu juga ditemukan sejumlah harta karun paling luar biasa dalam sejarah arkeologi.

Kamar makam di mana mumi Tutankhamun berada dibuka pada 16 Februari 1923 dan sarkofagusnya ditemukan pada 3 Januari 1924.

“Nah, bisakah kamu melihat sesuatu?,” tanya Earl saat kamar makam dibuka, seperti dikutip dari Telegraph. “Ya,” jawab Carter.

Lalu, saat Carter melambaikan lilinnya dan menangkap kilatan kilauan emas, ia berkata, “Hal yang sungguh luar biasa.”

Saat menyaksikan pembukaan kamar makam itulah, seekor nyamuk menggigit sang bangsawan. Tak disangka, sebuah gigitan makhluk kecil itu menyebabkan infeksi.

Pada 5 April 1923, George HerbertEarl of Carnarvon meninggal dunia di kamar hotelnya di Continental-Savoy Hotel, Mesir, Kairo.

Kejadian tragis tersebut memicu kisah Curse of Tutankhamun atau Mummy’s Curse Kutukan Mumi Firaun Tutankhamun.

Saat itu diyakini, kutukan konon akan menimpa siapapun yang berani mengganggu makam salah satu penguasa Mesir Kuno itu.

 

Diyakini bahwa banyak arkeolog atau penjarah harta karun jatuh sakit atau bahkan meninggal dunia.

Kasus kematian George Herbert memicu perdebatan sengit, apakah kutukan itu nyata atau tidak. Namun, para sejawaran langsung mengatakan, kabar itu bohong belaka.

Namun, kehebohan soal kutukan berkembang dengan cepat. Apalagi, dua pekan sebelum kematian Earl, Marie Corelli menulis sebuah surat yang secara kreatif menguraikan gagasan tentang sebuah kutukan, yang diterbitkan di majalah New York World.

Dalam surat tersebut, dia mengutip sumber yang tidak jelas, yang menyebut bahwa siapapun yang mengganggu makam Firaun tidak akan luput dari azab.

Segera setelah suratnya diterbitkan, sebuah mumi dikeluarkan dari Palazzo Chigi. Jasad yang diawetkan itu adalah hadiah dari Mesir untuk Benito Mussolini.

Studi selanjutnya menunjukkan, dari 58 orang yang berada di sana saat ekskavasi, hanya delapan yang meninggal dalam kurun waktu belasan tahun. Yang lainnya masih hidup, termasuk Howard Carter.

Namun, ada sejumlah insiden yang menguatkan isu soal kutukan. Misalnya, kisah George Jay Gould I, yang meninggal pada 1923 akibat demam, setelah ia berkunjung ke makam Tutankhamun.